![]() |
|
ENGLISH Michiko Tsuneda University of Wisconsin – Madison page
1
9. Kyoto: Kyoto University Press.]
|
di Thailand menilai penampilan “modern” dengan perempuan dengan baju-baju lebih terbuka dan dandanan mencolok “seperti orang Thai beragama Budha”, para gadis tadi kemudian memilih cara-cara Muslim untuk berbusana dan bertingkahlaku. Berada jauh dari kampung halaman di kota-kota Malaysia, gadis-gadis tersebut menghadapi sedikit resiko yang akan menghancurkan kredibilitasnya sebagai Muslim-Melayu untuk menjadi lebih “modern” dan tampil dengan busana menarik. Mereka berbincang memakai telepon selular – barang yang hanya mungkin dimiliki dengan mengumpulkan upah – untuk menghubungi teman-temannya dari Thailand dan teman-teman baru di Malaysia. “Teman-teman” tersebut termasuk juga lelaki. Kebanyakan perempuan mengatakan mereka membawa uang untuk keluarganya ketika kembali ke Thailand, tanda sebagai anak baik dengan cara membantu ekonomi, dan bertarung dengan kecurigaan atas moralitas bebas perempuan. Pada saat yang sama, banyak dari mereka ingin bekerja di Malaysia sebagai “pengalaman hidup” di kota, di negara lain. Kasus Mariam menunjukkan perbedaan lainnya yang sangat penting antara perempuan dan lelaki yang melintas batas: prospek untuk menikah. Seorang lelaki dari Thailand akan dipandang oleh warga Malaysia sebagai “kurang berpendidikan dan secara ekonomi tidak aman” hanya memiliki peluang yang amat kecil menikahi perempuan Malaysia. Orang-orang juga mencatat sulitnya mendapatkan hak tinggal di Malaysia bagi lelaki yang menikahi perempuan Malaysia, jika dibandingkan dengan perempuan yang menikahi lelaki Malaysia. Bagi perempuan muda, tidak seperti lelaki, menikahi lelaki |
Malaysia dan menetap di Malaysia merupakan jalan menuju masa depan. Dalam wawancara yang saya lakukan, sebagian besar perempuan bukan-elit dari wilayah penutur Melayu di Thailand selatan yang menikah dengan lelaki Malaysia dalam beberapa dekade terakhir mengatakan bahwa pertama kali mereka bekerja di restoran, dan bertemu dengan pasangannya di sana. Fakta bahwa banyak perempuan menikahi lelaki Malaysia sama sekali tidak berarti mereka mengidealkan lelaki Malaysia dibandingkan dengan lelaki yang ada di komunitasnya di Thailand, melebihi akses ekonomi dan sosial dan kenyamanan yang mereka bawa. Ketika mereka mengetahui hubungan etnis “melayu” di antara keduanya, perbedaan antara Melayu Malaysia dan Melayu Thai ditekankan melalui interaksi yang meningkat di antara kedua kelompok yang memiliki latar belakang nasional dan sosial yang berbeda. Persepsi meningkatnya jumlah perkawinan antara “imigran asing” dan warga Malaysia dilihat sebagai ancaman sosial di Malaysia. Di perbatasan di Thailand, banyak perempuan yang menikahi lelaki Muslim Thailand akan mengatakan menikahi lelaki Malaysia merupakan permainan berbahaya. Mereka memberikan tanda-tanda bahwa lelaki Malaysia sebagai “penakluk perempuan” yang selalu mencari istri kedua atau ketiga. Menurut mereka, perempuan dari Thailand seringkali “tertipu” menjadi istri kedua, atau dengan mudah ditinggalkan ketika lelaki Malaysia menemukan istri baru.
|
Walaupun demikian, banyak perempuan menikahi lelaki Malaysia, dan untuk sementara waktu itu merupakan aspirasi yang dikejar. Mereka mengatakan bahwa mereka cukup beruntung dapat hidup secara nyaman di Malaysia, dan mampu menyediakan pendidikan bagi anak-anaknya. Kebanyakan orang tua, seperti orang tua Mariam, sangat bangga menceritakan anak perempuannya yang tinggal di Malaysia, yang membantunya secara keuangan. Dukungan keuangan bukanlah satu-satunya keuntungan yang didapatkan ketika perempuan menikahi lelaki Malaysia. Lelaki tersebut akan menjadi penghubung utama dari jaringan manusia di perbatasan, membukakan pintu bagi saudara atau teman di Thailand, seperti saudara lelaki Mariam, Yusof, untuk hidup, bekerja atau sekolah di Malaysia. Komunitas penutur Melayu di Thailand selatan sangat tergantung kepada jaringan informal untuk mencari pekerjaan di di sekitar perbatasan, dan menolak peran perantara. Makanya, jaringan pribadi melalui hubungan keluarga, seperti perempuan menikahi lelaki Malaysia, sangat penting untuk meningkatkan kesejehteraan ekonomi dan kesempatan sosial. Kesimpulan Melayu-Muslim yang tinggal di perbatasan Thailand menderita dan mengambil keuntungan adanya perbatasan nasional, seperti juga penduduk di daerah “perbatasan” lainnya di dunia. Sebagai anggota etnis minoritas di pinggiran, mereka menempuh hidup dengan cara bermanuver di atas identitas yang ambigu dan rumit. Seberapa banyak seseorang dapat mengendalikan ambiguitas dan menggunakannya
|
untuk keuntungan sendiri sangat tergantung dari posisi individu dalam “geometri kekuasaan” di daerah. Lebih jauh, dalam “geografi kekuasaan bersifat jender” individu dipengaruhi tidak saja oleh kekuatan-kekuatan ekonomi-politik dan hukum, tetapi juga berbagai jenis bayangan dan harapan. Melintas batas tidak seluruhnya menguatkan atau menekan kepada seluruh “penduduk perbatasan” Thai-Malaysia. Kemampuan memilih untuk tinggal atau pindah tidak tersedia secara merata kepada setiap orang yang berada di perbatasan, hal tersebut dipengaruhi oleh jender, etnisitas dan kelas. Lelaki dan perempuan dari generasi yang berbeda dan status perkawinan yang berbeda in komunitas penutur Melayu di Thailand selatan mengalami hidup di perbatasan dan melintas batas dengan tingkat, bentuk keterbatasan, tekanan dan keberuntungan yang berbeda-beda. Seperti memiliki nasionalisme ganda yang semakin sulit karena ketatnya kontrol negara, perempuan harus memainkan peran penting dibandingkan dengan masa lalu dengan cara membangun jaringan yang melintasi-batas bagi Melayu-Muslim di Thailand selatan. Ketika banyak lelaki melihat dirinya sebagai pekerja sementara yang mencari uang di tanah yang bukan “miliknya”, perempuan muda yang bekerja ke Malaysia memelihara dan menciptakan jaringan sosial yang dibatasi batas nasional, mereka juga menumbuhkan kesempatan baru. |
|
|
|
|
|