Study Vietnam di Cina: Sebuah Telaahan Sejarah


Yu Xiangdong

volume 10

english    japanese    chinese   indonesian

THIS ISSUEKyotoreviewvol10.htmlhttp://www.kyotoreviewsea.org/Issue_10/TOC.htmlshapeimage_1_link_0
CSEAShttp://www.cseas.kyoto-u.ac.jp/index_en.htmlhttp://www.cseas.kyoto-u.ac.jp/index_en.htmlshapeimage_2_link_0

NEWS

ARCHIVESArchives.htmlhttp://livepage.apple.com/shapeimage_3_link_0

PDF

COMMUNITYhttp://www.kyotoreviewsea.org/cmshttp://www.kyotoreviewsea.org/cms/shapeimage_4_link_0
 


Pendahuluan


Studi Vietnam adalah mempelajari tentang Vietnam. Sangat sulit untuk meremehkan pentingnya, keaneka-ragaman ilmunya, hubungannya dengan disiplin ilmu lain dan hubungan antara negara. Studi Vietnam di Cina mempunyai sejarah yang panjang. Walaupun konsep ini berlum ada di jaman kuno Cina, tetapi faktanya ada. Nilai sejarah dari studi Vietnam tidak dapat dipungkiri, Sejak tahun 1950-an, khususnya di periode reformasi dan pembukaan, studi Vietnam di Cina telah memperluas cakupannya dan memperkuat team-nya. Sejumlah peneliti dari generasi yang berbeda tetap menjalankan tradisinya dan memperkenalkan konsep-konsep dan pekerjaan baru. Oleh karena itu studi Vietnam di Cina telah menyaksikan perkembangan dan kemajuan.


Studi Vietnam, juga disebut dengan penelitian tentang Vietnam, dapat didefinisikan dalam dua cara. Dalam arti yang sempit, ini adalah cara berpikir tertentu dan menekankan karakteristik-karakteristik Vietnam. Ini meliputi keberadaan sebuah ruang budaya yang memberdakan dirinya dari negara dan bangsa yang lain, khususnya dengan negara-negara tetangganya. Ruang budaya ini berfungsi sebagai basis untuk memahami dan penjelasan dari tradisi, mentalitas, nasib dan permasalahan lainya yang berkaitan dengan Vietnam. Dengan latar belakang tradisi dari “Cinalizasi” (percinaan), “Konferensi Internasional Pertama tentang Studi Vietnam” dan kecenderungan tertentu untuk “kebarat-baratan” (westernisasi) dalam lingkungan akademia, ruang budaya berfokus pada karakteristik Vietnam atau apa yang khusus atau unik dari Vietnam. Kebalikannya, studi Vietnam, dalam arti yang luas, berhubungan dengan ruang geografi dari Vietnam sebagai subyeknya dan menggabungkannya denga studi apapun yang terkait dengan sejarah, budaya, politik, ekonomi, hukum, bangsa, agama, bahasa, seni dan hubungan internasional dengan wilayah Vietnam, bahkan studi tentang Champa kuno dan peradaban Funan. Atau boleh dikatakan bahwa setiap hal di studi Vietnam dan hasil-hasil yang dicapai dapat disebut dengan studi Vietnam.


Istilah studi Vietnam seperti yang digunakan dalam artikel ini masuk dalam kategori kedua, yaitu studi Vietnam dalam arti yang luas. Ini mengarah ke sebuah disiplin komprehensif dan meliputi berbagai jenis ilmu pengetahuan. Studi ini utamanya mendiskusikan tentang permasalahan evolusi dan transformasi sejarah dan peradaban dan isi substansialnya diciptakan oleh orang-orang Vietnam sebagai penduduk utama dan beberapa warga negara lainnya dibawah pemerintahan Vietnam, persamaan, perbedaan dan hubungan antara Vietnam dan peradaban Asia Tenggara dan antara peradaban Timur dan Barat.


Istilah studi Vietnam diajukan dan diadopsi sebelum abad 19 oleh para peneliti Barat. Setelah penemuan geologi besar dan dengan kedatangan kolonialis Barat di Timur, para peneliti Barat menjadi tertarik kepada urusan-urusan Timur. Mereka mempelajari sejarah dan budaya Timur dan membuat studi Timur (Eastern studies) mempunyai pengaruh besar. Studi Timur di Barat umumnya meliputi studi India dan studi Han (atau studi tentang Cina, Studi Cina), studi Mesir, studi Syria dan juga berisi studi Vietnam. Karena Vietnam dan Asia Tenggara dalam sejarah berada dalam pengaruh kuat peradaban Cina dan India, para peneliti Barat telah lama menghubungkan studi Asia Tenggara dan studi Vietnam dengan studi India dan studi Cina dan telah menggabungkan yang pertama dengan berikutnya. Contohnya, banyak peneliti yang mempelajari permasalahan Vietnam di Perancis antara akhir abad 19 dan awal abad 20 adalah peneliti yang memahami studi Cina.


Dapat dikatakan bahwa studi Timur, studi Cina dan studi Vietnam di Barat diawali dan dikembangkan oleh orang putih yang memegang nilai-nilai Barat dan mempunyai bayangan kolonialisme. Beberapa permasalahan dipelajari secara mendalam oleh para peneliti Barat dan tetap berharga hingga hari ini, walaupun begitu, banyak penelitian yang hanya meliput tentang bahasa, budaya dan bagian sejarah dari Timur dan Vietnam, dan termasuk studi yang berdimensi terbatas. Setelah PD II, studi Timur di Amerika cukup maju, tetapi politik dan konstruksi akademisnya tentang studi Timur disebut dengan “seperti percakapan tentang kekuatan” karena penerapan politik dalam studi Timur dibayangi membayangi nilai-nilai akademik, dan para peneliti studi Timur telah menjadi spesialis dalam studi regional. Kecenderungan untuk berubah ini diperlihatkan dalam kesuksesan dan perkembangan dari studi Vietnam di Amerika Utara selama periode Perang Vietnam.


Di abad 20, banyak peneliti di Uni Soviet memberikan perhatian besar kepada studi Timur, termasuk studi Vietnam. Konsep dari studi Vietnam dikembangkan oleh para peneliti Soviet. Di tahun 1950-an dan 1960-an, para peneliti Cina pernah menerima konsep-konsep tersebut dan mengemukakan isu dalam membangun studi Vietnam. Walaupun begitu studi Vietnam yang dilakukan oleh Soviet dan peneliti Cina selama waktu itu juga menpertimbangkan permasalahan politik dan menjadi subyek untuk kepentingan-kepentingan politik. Revolusi rakyat, perjuangan anti-kolonialisme dan hubungan bilateral yang bersahabat adalah topik-topik utama dalam studi Vietnam. Sejak tahun 1980-an, dengan perkembangan dari reformasi dan pembukaan dan perubahan nilai-nilai dan kemajuan dalam metode penelitian, studi Asia Tenggara dan Vietnam di Cina telah mencapai kemajuan yang signifikan, dan beberapa peneliti mengemukakan isu untuk memperbarui dan membangun studi-studi Vietnam dan Asia Tenggara di Cina. Sementara itu, beberapa peneliti telah melakukan usaha yang besar untuk mendapat pemahaman yang lebih mendalam dan komprehensif tentang Vietnam di wilayah yang mereka ketahui dan mereka datang ke Vietnam sendiri untuk melakukan penelitian lapangan dengan mempergunakan keahlian mereka dalam bahwa Vietnam. Melalui usaha-usaha yang ditunjukkan oleh para peneliti ini, studi Vietnam dan Asia Tenggara di Cina mungkin akan mencapai kemajuan dan perkembangan lebih lanjut.


Untuk studi Vietnam, kita sudah menhasilkan beberapa pemahaman dasar: yang pertaman, studi Vietnam mempunyai kepentingan yang tidak dapat kita abaikan. Walaupun sebuah negara yang cukup kecil di dunia ini, negara ini mempunyai peranan yang cukup penting di Asia Tenggara dan mempunyai pengaruh terhadap dunia. Vietnam mempunyai peradaban kuno yang mengagumkan dan beraneka ragam yang berumur ratusan tahun yang meliputi peradaban sungai Merah di sebelah utara, peradaban Champa dan peradaban Funan di sebelah selatan. Kebudayaan Cina kuno dan Kebudayaan India pernah bertemu di sini dan sampai sekarang Vietnam masih memelihara sejumlah bentuk dan isi dari budaya Timur yang diambil sebagai “spesimen” untuk studi tentang budaya Cina kuno. Di dalam periode modern dan kontemporer, Vietnam telah terbuka ke Barat dan oleh karena itu telah dipengaruhi oleh beradaban Barat. Reformasi dalam Vietnam kontemporer telah membuatnya kelihatan menarik. Ekonominya mengalami perkembangan yang kontinyu dan cepat, lingkungan masyarakat dan politik tetap stabil, sistem ekonomi pasar sosialis meningkat, dan Vietnam secara mantap menuju industrialisasi dan modernisasi. Apakah dari perspektif pemahaman komunikasi di antara beradaban manusia yang beraneka ragam, atau dari meringkas sejumlah pengalaman dan pelajaran dari sebuah negara berkembang yang merubah diri menjadi negara modern, mengembangkan studi Vietnam sangat penting untuk teori akademis dan praktek praktek kehidupan nyata.


Kedua, studi Vietnam beraneka ragam dalam segi ilmu pengetahuan yang digunakan. Dibandingkan dengan studi tentang negara besar, studi Vietnam cukup sempit dalam segi wilayah penelitian. Walaupun begitu, studi Vietnam agak ektensif dalam segi jangkauan ilmu pengetahuannya. Pengembangan studi Vietnam memerlukan studi tentang sejarah, politik, ekonomi, linguistik, ethnologi, dan berbagai disiplin ilmu lainnya. Studi Vietnam dapat diklasifikasikan dalam dua kategories: pertama, studi tentang subyek dan area yang sederhana yang utamanya berdasarkan pada struktur ilmu pengetahuan dari disiplin khusus untuk mendiskusikan dan menyelesaikan sejumlah permasalahan yang melibatkan struktur ilmu pengetahuan mikro yang cukup sempit. Kedua, sebuah studi komprehensif yang melibatkan multi disiplin dan area dan menggunakan studi antar disiplin ilmu. Untuk kategori yang pertama, keahlian yang kuat merupakan hal yang sangat penting; sedangkan untuk yang kedua, kemampuan menganalisa untuk menciptakan sesuatu adalah cara yang tidak dapat dihindari. Walaupun begitu, keduanya membutuhkan pondasi yang solid dari pengetahuan, ilmu, metode penelitian yang dibutuhkan dan perspekstif yang berphilosofi. Secara teoritis bisa dikatakan, studi di setiap area saling melengkapi dan tidak dapat dipisahkan antara satu dengan yang lainya. Kategori kedua lebih membutuhkan kemampuan dan kapasitas peneliti. Oleh karena itu hasil yang diperoleh dari kategori pertama lebih umum, sedangkan hasil dari yang kedua sangatlah jarang.


Ketiga, studi Vietnam sangat dekat hubungannya dengan disiplin lainya. Sifat sejarah dan peradaban Vietnam yang beraneka ragam dan koneksi ekstensif mereka dengan sejarah dan peradaban dunia membuat studi Vietnam tidak dapat dihindari berhubungan dengan disiplin-disiplin lain. Peradaban Vietnam dulu adalah peradaban sub-regional yang berasal dan berkembang di Asia Tenggara dan juga merupakan sebuah peradaban campuran dengan warisan budaya yang kaya yang dipengaruhi secara kuat oleh budaya asing. Akibatnya, studi Vietnam secara alami ditampilkan oleh karakteristik-karakteristik peradaban sub-regional dan juga mempunyai beberapa karakter eksternal dari peradaban Asia Timur dan peradaban Asia Selatan. Oleh karena itu, studi Vietnam memainkan peranan yang penting dalam studi Asia Tenggara. Sejak Indocina pernah berada dalam pengaruh kuat kebudayaan Cina dan India dalam sejarah, studi Vietnam berhubungan dekat dengan studi Cina dan studi India. Studi tentang peradaban Vietnam kuno tidak akan mendalam tanpa pengetahuan tentang studi Cina dan India sebelumnya. Walaupun begitu, sambil memahami korelasinya, kita harus sadar sepenuhnya bahwa studi Vietnam merupakan subyek tersendiri tanpa prioritas dan model untuk diikuti yang tersedia. Studi Vietnam tidak termasuk dalam studi India ataupun studi Cina; studi ini mempunyai obyek target dan batasan yang jelas, unik dan hukum-hukum penyebabnya. Atau, kita mungkin dengan mudah mendapatkan pemahaman yang salah bahwa sejarah dan kebudayaan Vietnam adalah hanya sebuah miniatur dari sejarah dan peradaban Cina dan India kuno.


Keempat, studi Vietnam mempunyai sifat universal yang melampaui batas-batas negara. Studi Vietnam mengambil sejarah dan peradaban yang diciptakan oleh berbagai suku bangsa Vietnam sebagai obyek-obyek targetnya. Beraneka ragam suku bangsa yang membentuk sejarah dan peradaban Vietnam menunjukkan sifatnya yang universal dari studi Vietnam. Hasil-hasil dari peradabanya mempunyai ciri khas nasional dan sifat yang universal. Dalam istilah sejarah perkembangan dari studi Vietnam, seperti studi Cina, studi Vietnam dalam waktu yang cukup lama, mengacu umumnya pada penelitian oleh para peneliti dari negara-negara di luar Vietnam. Peneliti dari Cina, Amerika, Rusia, Jepang, Australia, Jerman, Inggris, dan lain-lain, telah terlibat dalam studi Vietnam. Seperti studi Cina, studi Vietnam merupakan cabang dari studi-studi Barat dalam hal peneliti yang terlibat, dan hasil penelitian mereka dan tingkatan dari kerja akademis, yang tidak ada hubungannya dengan Cina ataupun Vietnam. Walaupun begitu, perkembangan selanjutnya dan pemahaman yang lebih mendalam tentang studi Vietnam membutuhkan usaha-usaha yang tekun oleh para peneliti di dalam negara itu sendiri dan di luar negeri. Mereka membuat upaya yang besar dalam memahami negara tersebut dan relevan kepada kondisi nyata di Vietnam.


Walaupun studi Vietnam di Cina telah membuat kemajuan yang pesat melalui upaya-upaya dari banyak peneliti, tetapi masil belum menjadi disiplin ilmu yang berdiri sendiri dan terintegrasi seperti di Jepang dimana ada sebuah asosiasi nasional dari studi-studi Vietnam, team peneliti dari studi Vietnam di Cina cukup berpencar dan tidak ada sebuah lembaga penelitian nasional untuk koordinasi. Asosiasi Asia Tenggara nasional di Cina berkembang meliputi sejumlah banyak peneliti dari studi Vietnam dan telah memainkan peranan yang penting. Walaupun begitu, banyak peneliti dan spesialis dalam bidang ini masih belum masuk dalam asosiasi ini.


Di tahun 1998, simposium internasional pertama tentang studi Vietnam dilaksanakan di Hanoi. Para peneliti dari Amerika, Rusia dan Jepang membuat presentasi masing-masing memberikan gambaran singkat kepada para partisipan tentang kemajuan mereka dalam studi Vietnam di negara mereka masing-masing. Dua belas peneliti dari Cina dan saya juga diundang, tetapi tidak satupun memperkenalkan tentang perkembangan studi Vietnam di Cina. Tidak ada artikel tentang apa yang telah dicapai oleh studi Vietnam di Cina dalam koleksi tulisan yang diterbitkan, yang memberikan gambaran kepada orang-orang bahwa studi Vietnam di Cina sangat lemah. Oleh karena itu, artikel tentang studi Vietnam di Cina saya yang kirimkan ketika diundang dalam simposium internasional kedua tentang studi Vietnam di kota Ho Chi Minh pada bulan Juli 2004 menarik perhatian dan mendapatkankan penghargaan yang antusias dari banyak peneliti.


Secara jujur, para peneliti Cina menikmati banyak keuntungan dalam studi Vietnam, khususnya karena studi Vietnam di Cina mempunyai tradisi sejarah yang sangat panjang dan dimulai jauh lebih awal dari pada banyak negara lainnya. Dibandingkan dengan studi Vietnam internasional, studi Vietnam kontemporer di Cina mempunyai banyak keuntungan dan kerugiannya.


Studi Vietnam di Jaman Cina Kuno


Karena hubungan sejarah, budaya, suku dan geografi yang dekat dengan Vietnam, Cina merupakan yang pertama di dunia yang mendokumentasikan fakta-fakta tentang Vietnam dan juga merupakan negara yang mempunyai catatan sejarah terbanyak tentang Vietnam. Di masa sebelum Dinasti Qin, telah ada catatan singkat tentang Vietnam (disebut dengan wilayah Giao Chi atau Jiaozhi) ditemukan dalam data sejarah dan makin banyak catatan-catatan tersebut ditemukan dalam tulisan resmi dan pribadi setelah Qin, Han dan khususnya pada masa Dinasti Song. Walaupun kebanyakan artikel kuno mempunyai ciri khas yang masuk dalam kategori data sejarah, mereka telah mulai melakukan seperti penelitian di tinggal awal, untuk banyak peneliti kuno mengkoleksi dan mengklasifikasikan data-data tersebut berdasarkan topik dan gaya tertentu, menambahkan komentarnya dan kritiknya masing-masing dan mengemukakan padangan mereka sendiri selama mencatat. Karenanya, dapat dikatakan bahwa walaupun faktanya konsep tentang studi Vietnam tidak ada dalam Cina kuno, fakta menunjukkan bahwa studi tersebut telah ada di sana. Aktifitas-aktifitas penelitian, tradisi dan nilai sejarah dari pencapaian dalam studi Vietnam tidak dapat dipungkiri. Akan sangat disayangkan untuk mempelajari sejarah dan budaya Vietnam kuno dan hubungan Sino-Vietnam tanpa mengacu kepada data-data sejarah tentang Vietnam dalam karya-karya klasik Cina kuno.


Catatan-catatan dan studi tentang Vietnam umumnya terdiri dari dua bagian: sejarah resmi dan catatan-catatan pribadi. Apa yang perlu diperhatikan adalam banyak tulisan pribadi dikutip, dikoleksi dan dipelihara dalam serial buku. Dan berbagai tulisan dan catatan lainya telah menjadi tersebar atau hilang akibat dimakan oleh waktu dan sejumlah banyak bahan-bahan yang tersebar tersebut disimpan dalam buku-buku kategorikal.


Catatan-catatan tentang Vietnam termasuk Lin-yi dapat ditemukan dalam sejarah resmi, yang mengacu kepada Dua Puluh Lima Sejarah Dinasti Resmi, dan dalam catatan sebelum Sejarah dari Dinasti Song, umumnya dalam catatan geografi dan dalam biografi dari para kaisar dan pejabat. Catatan-catatan ini menunjukkan sebagian dari sejarah di mana Vietnam berada dibawah kekuasaan dinasti feodal Cina. Pada saat itu diistilahkan dengan County Times (negara bagian) atau Northen Affiliation (afiliasi di bagian utara). Dao Duy Anh, seorang sejarawan Vietnam terkenal, pernah menulis sebuah buku Domains of Vietnam in Different Dynasties (Wilayah Vietnam dalam Dinasti yang Berbeda), di mana dia banyak menggunakan banyak data dari sejarah resmi dan catatan geografi Cina. Dalam Sejarah dari Dinasti Song, sebagai tambahan dari karya-karya tulisan dalam autobiografi, catatan tentang Vietnam umumnya ditemukan dalam History of the Song Dynasty: Records of Giao Chi", "History of the Yuan Dynasty: Records of An Nam", " History of the Ming Dynasty: Records of Giao Chi", dan"Scripts of the Qing Dynasty: Memoir of Vietnam". Alasan mengapa catatan tentang Vietnam secara khusus ditulis setelah Sejarah dari Dinasti Song adalah karena pada masa awal Dinasti Song, Vietnam membangun Dinasti Ding oleh Dinh Bo Linh dan oleh dinasti foedal Cina dianggap sebagai negara jajahan. Akibatnya Vietnam mulai sejarah dari dinasti feodal yang tersendiri. Karena artikel-artikel khusus tentang Vietnam biasanya ditulis oleh pejabat pemerintah untuk catatan sejarah dari dinasti berikutnya dengan merangkum sejarah dari dinasti sebelumnya, mereka dapat menggunakan berbagai macam bahan, termasuk arsip-arsip dan statistik resmi yang sangat sulit untuk didapatkan oleh peneliti biasa, sehingga catatan-catatan ini sangat berharga karena catatan ini dapat menunjukkan tingkatan dari pemahaman dan studi dari sejarah Vietnam dari semua dinasti dan hubungan Sino-Vietnam. Selain Dua Puluh Lima Sejarah Dinasti Resmi, dokumen pemerintah dan buku-buku politik dari berbagai dinasti, autobiografi Dinasti Ming dan Qing, dan arsip-arsip juga mempunyai nilai sejarah yang sangat tinggi. The Imperian Records of An Nam yang diselesaikan oleh Dewan Perencanaan Strategis dari Dinasti Qing adalah salah satu contohnya.


Dinasti Song dapat juga digunakan sebagai pembatas untuk tulisan-tulisan pribadi. Tulisan-tulisan sebelum Dinasti Song meliputi Changes of Giao Chi oleh Yang Fuy dari akhir Dinasti Han, Record of South Vietnam oleh Shen Huaiyuan, Records of Giao Chi oleh Liu Xinqi dari Dinasti Jin, Anecdotes Recorded in the South of Five Ridges oleh Liu Xinqi dari Dinasti Tang dan lain sebagainya. Volume-volume dari catatan ini tidak cukup berat dan isinya cukup singkat, dan di atas semua itu, kebanyakan dari catatan ini tersebar dan dilampirkan dalam buku-buku lain atau hilang dan kita hanya dapat mendapatkan kilasan dari isi dengan mengumpulkan versi sekundernya. Di sini kita secara khusus perlu menyebutkan Records of the Outer Domains of Giao Chi yang dikutip dalam Commentary to the River Classic, di mana ada catatan-catatan berharga tentang tanah, orang-orang, kaum bangsawan dan kekuasaan raja-raja di Kerajaan Luo. Catatan-catatan ini digunakan oleh para sejarawan sebagai sumber. Sejak Dinasti Song, ada lebih banyak lagi tulisan tentang Vietnam dan subyek yang dibicarakan semakin bermacam-macam, contohnya, Representative Answer to Matters Beyond the Five Ridges oleh Zhou Qufei dan Gui Hai Yu Heng Zhi oleh Fan Chengda dari Dinasti Song, An Nam Zhi Lue oleh Li Wei, seorang peneliti Vietnam yang tinggal di Cina selama Dinasti Yuan, Writings on Jiao Zhou  oleh Chen Gangzhong, A Journey to An Nam oleh Xu Mingshan dari Dinasti Yuan, Books of Yue Qiao oleh Li Wenfeng, Yu Jiao Ji oleh Zhang Jingxin, An Nam Lai Wei Ji Lue oleh Jiang Meizhong dari Dinasti Ming, Annals of An Nam oleh Gao Xiongzheng dari awal Dinasti Qing, Geography of Vietnam with Illustrations oleh Sheng Qingba, Vietnam Ji Lue oleh Xu Tingxu dari akhir Dinasti Qing dan lain-lain. Banyak dari catatan-catatan ini dapat dilihat sebagai studi Vietnam klasik, khususnya An Nam Zhi Lue, Yu Jiao Ji, dan Books of Yue Qiao, yang merupakan referensi penting untuk studi sejarah dan budaya Vietnam kuno dan hubungan Sino-Vietnam.


Tradisi dari studi Vietnam kuni di Cina berlanjut sampai akhir Dinasti Qing dan periode Republuk. Karena tujuan untuk menyelamatkan negara dan mempertahankan keberadaannya, Liang Qichao memberikan perhatian yang besar kepada sejarah asing dan telah membantu Phan Boi Chao, seorang pahlawan besar Vietnam, menerbitkan History of Vietnamese Downfall, dan menulis buku seperti Short Stories of Vietnam, A Summary of the Tragedy of Vietnamese Downfall, dan lain-lain. Sekitar tahun 1940-an, melalui usaha-usaha dari sekelompok peneliti terkenal di Institut Studi Asia Tenggara, kegiatan mengajar dan penelitian tentang sekolah bahasa Oriental, studi tentang hubungan luar negeri Cina dan sejarah orang-orang China telah diusulkan dan membuat kemajuan baru yang telah dicapai oleh studi Asia Tenggara dan studi Vietnam. Yugong Society (Masyarakat Yugong), yang merupakan spesialis dalam penelitian sejarah dan geografi, dan banyak peneliti seperti Zhang Xiumin, Meng Wentong, Fang Guoyu, dan Chen Xujing melakukan tradisi belajar secara tekun dari sekolah Qianjia di masa Dinasti Qing, dan mendapat sukses besar dalam penelitian tekstual tentang sejarah Vietnam. Zhang Xiumin menerbitkan beberapa buku yang mengagumkan di tahun 30-an dan 40-an; An Nam during the County Times oleh Li Zhengfu adalah buku yang sangat mengagumkam walaupun untuk para peneliti di masa ini.


Sebagai dokumentasi sejarah, sejarah kuno Vietnam dimulai cukup terlambat dan sebagian besar yang telah ditulis tersebar atau hilang, hasi-hasil dan semua bentuk tulisan tentang studi Vietnam oleh para peneliti Cina kuno telah memelihara bagian-bagian yang tak ternilai dari data sejarah tentang sejarag kuno Vietnam dan sejarah hubungan Sino-Vietnam. Dan selanjutnya para peneliti meneruskan studi ini dari generasi ke generasi dan telah membentuk tradisi tua berabad-abad dari studi Vietnam di Cina. Dapat dikatakan bahwa dengan mempertimbangkan kenyataan dari catatan-catatan tertulis tentang Vietnam yang datang terlambat dalam sejarah dan bahwa Vietnam telah lama berada dibawah kekuasaan masyarakat Cina feodal, data yang ditemukan dalam catatan sejarah Cina merupakan bukti-bukti tertulis pertama dan memainkan peranan yang sangat penting dalam studi sejarah dan peradaban kuno Vietnam. Walaupun begitu, untuk mendapatkan nilai lebih dari bukti-bukti tertulis di Cina, kita harus mengkombinasikan bukti itu dengan dan menganeka ragamkannya dengan berbagai jenis catatan sejarah Vietnam, seperti mitologi, legenda, cerita dewa-dewa, garis keturunan keluarga, prasasti, dan lain-lain.


Kita telah setuju tentang beberapa pemahaman dasar dari studi Vietman di Cina jaman kuno:


Yang pertama, dalam istilah konsep, pandangan sejarah yang dipegang oleh para peneliti tentang studi Vietnam di Cina kuno sangat jelas dibatasi oleh kondisi-kondisi kontemporer pada masa itu yang selalu tunduk kepada masyarakat feodal di masa itu. Di satu pihak, mereka menganggap Vietnam sebagai bagian dari Cina, atau sebuah wilayah atau jajahan yang tidak berdiri-sendiri, dan budaya Vietnam yang dipelajari dianggap sebagai kepanjangan dari budaya Cina. Buku-buku oleh Li Zhengfu, seorang peneliti dari pertengahan pertama abad 20, menunjukkan pandangan yang sama. Di pihak lain, mereka melihat diri sendiri sebagai Hua (Cina) mayoritas, sedangkan Vietnam, negara-negara tetangganya dan orang-orang sebagai Yi (asing) minoritas. Mereka menganggap Vietnam dan hubungannya dengan Cina dari sebuah perspektif subordinat. Cara editor dari Complete Collection of Four Treasures yang mengomentari tentang judul A Summary of History of Great Vietnam dan kenyataan bahwa dia encoret kata-kata “great” dari judul tersebut menunjukkan sebuah contoh. Bekas konsep kekuasaan penjajah Cina kuno terefleksikan dan kemudian dikenal sebagai konsep Chinese-alien. Intisarinya, mereka merefleksikan nasionalisme yang sempit dan kecurigaan suku dipelihara oleh para cendekia dan pejabat-pejabat feodal dalam basis agro-ekonomi mandiri. Para pejabat feodal di Vietnam tidak menyetujui dan menantang konsep tersebut secara terus-menerus. Contohnya, protes oleh Le Quy Don, seorang utusan dari akhir Dinasti Le ke Cina di masa Dinasti Qing; buku An argument of the Concept of Alien oleh Li Wenfu, utusan Dinasti Ruan ke Cina pada masa Dinasti Qing; dan buku dengan judul yang sama ditulis kembali oleh Ruan Sijian. Seorang peneliti terkenal Amerika, John K. Fairbank pernah menuliskan artikel yang berjudul "Chinese Concept of the World Order", yang menelaah hubungan-hubungan luar negeri Cina kuno. Menurut kenyataan, penguasa kuno di Vietnam feodal juga menerima pandangan ortodoks ini dan mengembangkan versi yang sama tetapi lebih kecil dari "Vietnamese Concept of the World Order" atau "Concept of the Sub-regional Order". Mereka menggunakannya untuk menangani hubungan mereka dengan negara-negara dan bangsa-bangsa di sekitarnya dan membangun sistem bawahan mereka sendiri, yang juga disebut dengan istilah sub-sistem subordinat atau hipo-sistem subordinat. Perlu dicatat bahwa sementara para cendekia dan pejabat Cina dan Vietnam saling berbeda pendapat tentang “Chinese dan alien”, Jepang setelah meninggalkan ideology Confusiusme tradisional, memisahkan diri dari Asia untuk merangkul Eropa dan menuju pembangunan modern. Artinya, pandangan-pandangan sejarah dan cara perpikir tradisional mengenai subordinat dan aturan tentang Cina dan negara asing mungkin merupakan alasan budaya yang penting mengapa pembangunan di Cina dan Vietnam kuno lebih lambat dan berada di belakang negara-negara kontemporer lainnya di dunia. Walaupun penerapan ritual-ritual feudal, yang berhubungan dengan konsep subordinasi dan peraturan Cina dan negara asing, dapat menyebabkan efek hirarki kekuatan, konsep dan cara berpikir tradisional juga merupakan sumber akar dari mental yang mengakibatkan banyak kesalahan dalam penguasa Cina feodal kuno dalam menghadapi isu-isu tentang Vietnam dan sejumlah keteledoran yang sifatnya sendiri-sendiri dan meningkatkan kemampuan dari orang-orang Vietnam.


Kedua, studi Vietnam di jaman Cina kuno menunjukkan perhatiannya kepada negara-negara tetangganya dan rakyatnya oleh peneliti dari generasi ke generasi, yang telah menulis buku-buku yang jumlahnya tak terhitung dan tak ternilai harganya. Walaupun begitu, dalam pandangan di hari ini, isi dari buku-buku tersebut tidak mencukupi dan tidak komprehensif. Buku yang tidak pernah ketinggalan jaman, “The History” oleh Sima Qian mendokumentasikan aktifitas-aktifitas dari banyak negara tetangga Cina dan rakyatnya dengan visi yang lebih luas, tetapi ketika kita membicarakan sejarah Vietnam sebelum dan selama Dinasti Qin dan Han, kita masil merasakan bahwa catatan sejarah yang terkait masih belum cukup. Ketertarikan dari banyak peneliti dalam mencatat dan mempelajari Vietnam berbeda dan bahkan cukup jauh dari ketertarikan kita di saat ini. Terkadang, untuk memenuhi kebutuhan kalangan politik feodal, para peneliti memberikan hal yang dibuat-buat (salah) dari masyarakat feodal dan tidak menyebutkan kebenaran dari sejarah. Contohnya buku A Record of An Nam, yang diterbitkan oleh Dewan Perencana Strategis dari Dinasti Qing, memperlakukan perang An Nam sebagai salah satu dari Sepuluh Ahli Seni Bela Diri yang Paling Terkenal dari periode Kaisar Qianlong, dan mengunggulkannya bersama dengan kejadian Ruang Guangping dijadikan tahanan rumah selama hari ulang tahun ke 80 dari Kaisar Qianlong. Beberapa peneliti mencatat pengalaman mereka dan hal-hal yang menarik perhatian mereka karena mereka tinggal di daerah perbatasan barat daya dalam misi resmi atau karena mereka berjuang di Vietnam. Sebagai contohnya, Representative Answers to Matters Beyond the Five Ridges oleh Zhou Qufei, yang lelah menjawab pertanyaan-pertanyaan dan menggunakan buku sebagai penggantinya, memasukkan semua hal yang menurut pemikiran penulisnya menarik untuk menjawab banyak pertanyaan dari orang lain yang ingin tahu. Tetapi hal-hal yang menarik untuk kita tidak dicatat atau hanya garis besarnya saja. Walaupun begitu, ada beberapa kasus di mana para peneliti kuno mempunyai ketertarikan yang sama dengan kita. Contohnya, studi tentang sejarah numismatics (mata uang) dan hubungan Sino-Vietnam telah selalu menjadi topik favorit orang-orang yang menggali dari masa lalu. Spring in the Country oleh Hong Zun dari Dinasti Song memasukkan beberapa catatan dari berbagai koin dari Dinasti Ding dan awal Dinasti Le. Dalam Miscellaneous Scripts of Kezhai oleh Li Bozeng, mencatat bukti-bukti hubungan trilateral antara Dinasti Song di bagian selatan di Cina Selatan dan Dinasti Yuan di bagian utara dengan Dinasti Chen Vietnam telah ditemukan. Semua catatan ini sangat penting dalam nilai sejarah.


Ketiga, untuk terlibat dalam studi Vietnam, seseoranh berlu untuk mendapatkan pengetahuan khusus dan mendapatkan pemahaman dari tangan pertama tentang situasi Vietnam. Hanya dengan perlengkapan hal tersebut kita membuat catatan dan studi tentang Vietnam lebih relevan dan menghindari membuat kesalahan. Selama periode Ming dan Qing, walaupun para intelektual Vietnam dan pejabat-pejabat menggunakan karakter Cina dalam menulis, komunikasi antara banyak orang Cina dan orang Vietnam dilakukan melalui tulisan karena hambatan bahasa percakapan. Zhu Shunshui, seorang peneliti dari Dinasti Ming yang pernah tinggal di wilayah selatan yang dikuasai oleh Dinasti Ruan, menuliskan A Memoir of Service in An Nam. Di kemudian hari Liang Qichao melakukan studi yang mendalam tentang Zhu Shunshui, tetapi dia memandang verifikasi dan mengakibatkan kebingungan dalam Rezim Ruan di Selatan dengan Rezim Zheng di Utara. Beberapa buku oleh beberapa peneliti yang pernah datang ke Vietnam untuk melakukan penelitian lapangan lebih berharga sebagai referensi. Contohnya seorang biksu yang bernama Shi Dashan yang tinggal di Guangzhou di masa Dinasti Qing diundang untuk tinggal di wilayah selatan yang kuasai oleh Ruan selama satu tahun atau lebih. Kemudian di kembali dan menerbitkan My Experiences Overseas untuk membantu orang-orang untuk memahami sejarah Rezim Ruan dan hubungan Sino-Vietnam. Selama periode Kaisar Daoguang, Cai Tinglan, seorang pejabat pemerintahan tinggkat rendah dari Penghu, tersesat di wilayah Quang Ngai, Vietnam ketika berlayar. Kaisar Mingming mengirimkan orang-orang untuk menemaninya kembali. Mereka menuju ke utara dari darat dan kembali ke Cina setelah beberapa bulan. Karena kontaksnya dengan orang-orang Cina di Vietnam, kemudian dia menuliskan Note of Hainan, yang merupakan bantuan besar bagi studi orang-orang Cina yang bermukim di Vietnam selama awal periode Dinasti Ruan. Gao Xiongzheng, seorang peneliti Confusianisme yang tinggal di Guangxi selama awal Dinasti Qing, menulis buku-buku, termasuk Records of An Nam, Cheng Xuezhai’s Scripts, dan lain sebagainya, dimana Records of An Nam sering dipakai sebagai referensi dalam tulisan pribadi dari para pejabat Vietnam di masa Dinasti Ruan, contohnya, buku Imperial Catalogue of Vietnamese History. Hal ini mungkin karena dia adalah seorang pejabat di Guangxi dan karena dia memberikan perhatian yang besar terhadap Vietnam dan telah mengumpulkan data-data sejarah terkait, dan kelihatannya dia menggunakan bahan-bahan tersebut untuk memperkenalkan wilayah Giao Chi yang diedit oleh para pejabat Ming.


Dan keempat, ada beberapa koneksi antara para peneliti Cina kuno dan para peneliti Vietnam dalam studi Vietnam dan beberapa keberhasilan merupakan hasil dari usaha bersama para peneliti dari kedua negara. Contohnya, banyak peneliti Yuan yang menuliskan pembukaan untuk buku Li Ze, Introduction to An Nam, yang sangat berpengaruh. Buku Precursor of Vietnamese History oleh Xi Shanchao sangat popular di Cina karena diedit oleh Xihai Liu, seorang kolektor buku dan spesialis epigrafi (membaca prasasti) di masa Qing. Penulisan duta besar merupakan jenis penulisan yang sangat khusus. Kunjungan duta besar merupakan tipe yang paling penting dari komunikasi ramah dan juga merupakan saluran penting untuk meningkatkan saling pemahaman antara Cina dan negara-negara tetangganya. Kunjungan-kunjungan besar ke luar negeri dan hasil-hasil literature yang bertumpuk-tumpuk dilakukan dan diciptakan oleh para duta besar yang berkunjung dan para peneliti dari Cina Vietnam, Korea Selatan, dan negara-negara lainnya. Artinya, kunjungan-kunjungan ke luar negeri meningkatkan studi Vietnam di Cina. Catatan perjalanan duta besar Qing ke Vietnam dan Korea Utara diciptakan melalui kerja sama mereka dengan pejabat dan peneliti Cina. Hal ini sangat berharga dalam hal nilai literature dan sejarah. Buku-buku seperti Diary of Escorting Vietnamese envoy memberikan data sejarah yang sangat berharga untuk studi hubungan Sino-Vietnam selama akhir periode Qing. Untuk dapat menyelesaikan misi secara sukses dalam menemani utusan atau duta besar Vietnam, dan membuat pembicaraan lebih natural, dia mendorong sejumlah pejabat diplomatik dan peneliti untuk datang dan mengerti tentang Vietnam dan melakukan penelitian di Vietnam. Volume Poems of Vietnamese Envoys and Ambassadors disimpan dalam National Library of China merupakan koleksi dari banyak tulisan dalam bentuk tanggapan-tanggapan dari Ruan Shu, seorang duta besar untuk Cina dimasa Dinasti Ruan, dan pejabat Qing yang cocok yang bekerja bersamanya.


Studi Vietnam di Cina Sejak Tahun 1949


Selama tahun 1950-an, 60-an dan 70-an, studi Vietnam di Cina melaksanakan tradisi kuno dan telah mencapai perkembangan yang lebih lanjut di bawah petunjuk pandangan sejarah baru. Di satu pihak, studi Vietnam terus membawa niat baik komunikasi antara Cina dan Vietnam dalam sejarah, membantu untuk meningkatkan hubungan bersahabat antara kedua negara. Contohnya, "Friendly Communication and Cultural Exchange between China and Vietnam in History", sebuah artikel oleh Chen Xiuhe telah lama diterjemahkan dan diperkenalkan ke Vietnam. Di lain pihak, usaha-usaha besar dilakukan dalam pengajaran bahasa Vietnam, terjemahan dan pengenalan beberapa keberhasilan Vietnam dan pendidikan generasi muda yang akan menjadi spesialis dalam studi Vietnam. Buku-buku dari para peneliti terkenal Vietnam, termasuk Daop Duy Anh, Tran Huy Lieu, dan Ming Zheng diterjemahkan dan diperkenalkan ke Cina selama periode itu.


Di akhir tahun 70-an dan 80-an, walaupun banyak artikel tentang Vietnam dan hubungan Sino-Vietnam yang diterbitkan, karena hubungan antara kedua negara tidak dalam kondisi normal, banyak dari artikel-artikel tersebut tidak cukup akademis dan memiliki nilai yang terbatas. Walaupun begitu, perlu dicatat bahwa buku Dao Duy yang berjudul Domains of Vietnam in Different Dynasties, yang diterjemahkan oleh Profesor Dai Kelai (diterbitkan oleh The Commercial Press), dan  A Collection of Materials about Ancient Sino-Vietnam Relations yang diedit oleh Chen Zhichao, karena besarnya nilai akademisnya, mempunyai pengaruh yang sangat besar dan merupakan hasil yang sangat penting dalam studi Vietnam di tahun 70-an dan 80-an di Cina. Sebagai tambahan, penelitian tekstual oleh Zhang Xiumin tentang An Nam Zhi Yuan menggunakan banyak data sejarah yang dikumpulkan selama Dinasti Ming tentang isu-isu lokal dan menunjukkan bahwa bagian utama dari buku ini berasal dari A General Introduction to Yong Le and Giao Chi, yang merupakan catatan lokal yang diedit oleh para pejabat selama Periode Re-Divisi County di Vietnam (County Re-Division Period of Vietnam), dan judul saat ini disalah artikan oleh para peneliti dari French Institute of Far East. Artikel-artikel Tuan Zhang telah diterjemahkan dan diperkenalkan oleh The Study of History, sebuah jurnal akademis di Vietnam. Tetapi karena Gao Xiongzhi dan bukunya An Introduction to An Nam juga terlibat dalam penelitian tekstual, permasalahan ini masih belum terselesaikan.


Sejak tahun 90-an, studi Vietnam di Cina telah menunjukkan perkembangan pesat, yang merefleksikan aspek-aspek sebagai berikut:


Pertama, domain dari studi Vietnam di Cina kontemporer telah diperluas. Domain tradisional meliputi subyek sejarah, bahasa dan literatur yang sampai saat tetap menjadi basis dalam studi Vietnam dan telah memberikan pengaruh yang sangat besar. Sementara itu, studi dalam bidang budaya, kewarga-negaraan, agama, hukum dan khususnya isu-isu saat ini di Vietnam dan studi yang berhubungan dengan politik, ekonomi, diplomasi dan masyarakat membuat langkah langkah besar dan telah melihat secara lebih mendalam. Studi-studi ini memberikan pengaruh yang semakin besar dan telah menjadi langkah kunci dalam studi Vietnam. Perluasan domain dari penelitian memenuhi kebutuhan pengembangan hubungan yang bersahabat dan kerja sama yang komperensif dengan tetangga, dan mendirikan dan membangun disiplin ilmu dari studi Vietnam itu sendiri.


Kedua, team dari para peneliti yang tertarik dalam studi Vietnam menjadi semakin besar. Para peneliti dari studi Vietnam di Cina kebanyakan ditemukan di lembaga-lembaga penelitian dan universitas di Beijing, Henan, Yunnan, Guangxi, Guangdong, Fujian dan beberapa kota dan provinsi lainnya. Jumlah totalnya lebih dari 200 dan banyak diantara mereka mengakui melakukan studi Vietnam bersamaan dengan penelitian mereka tentang Asia Tenggara atau wilayah lainnya. Terlebih ladi sejumlah pejabat yang tertarik terhadap urusan luar negeri termasuk para diplomat yang telah pensiun dan wartawan melakukan penelitian dan telah membuat kontribusi kepada studi Vietnam. Contohnya, Li Jiangzhong, seorang bekas duta besar Cina untuk Vietnam, mempunyai hasil-hasil yang cukup banyak dari penelitiannya. Selain itu, ada juga sejumlah peneliti dari sejarah dan literatur Cina yang bergabung dan ikut mengembangkankan studi Vietnam.


Ketiga, para peneliti dari studi Vietnam di Cina telah tumbuh menjadi sebuah kelompok akademis yang terdiri dari senior, tengah baya dan muda. Banyak peneliti di masa lalu telah membangun pondasi yang kuat untuk mengembanga studi Vietnam dan telah melakukan usaha yang besar untuk mendidik generasi muda. Banyak peneliti tengah baya memdapatkan kesuksessa dan merupakan tulang punggung dari kelompok ini. Saat ini ada sejumlah program paska sarjana di lembaga-lembaga penelitian dan universitas, di mana gelar master dan doktoral bisa didapatkan oleh para peneliti dalam bidang studi Vietnam, seperti bahasa, budaya dan sejarah. Beberapa orang telah lulus dari program-program ini, mendapatkan gelas mereka dan siap meluncurkan sejumlah proyek besar. Dengan perkembangan dalam pertukaran budaya antara Cina dan Vietnam, para peneliti dari studi Vietnam telah menerima gelar Master dan Ph.D dari Vietnam dan negara-negara lainnya.


Keempat, hasil-hasil dari penelitian masih terus berdatangan dan studi dilakukan secara lebih mendalam. Tulisan-tulisan dari penelitian spesial tentang sejarah dan kondisi saat ini di Vietnam sejak tahun 90-an meliputi terjemahan dari History of Vietnam oleh Dai Kelai, Socialism in Vietnam and Cuba diedit oleh Fan Honggui, "Notes on Three Kinds of Historical Data about Ling Nan Shu Guai direvisi oleh Yang Baojun, Vietnamese Economic Reform and Modernization oleh Liang Zhiming, Vietnam dikompilasi oleh Yu Xiangdong, Vietnamese Socialism, From Complaints and Hatred to Equality and Mutual Benefit, dan Fifty Years of Sino-Vietnam Relations oleh Gu Xiaosong, Reform of Vietnamese State Owned Enterprises diedit oleh Gu Yuanxiang, History of Vietnam oleh Guo Zhenduo, Comparative Studies of Reform of Economic Structure of China and Vietnam oleh Pi Jun, Review of Distinguished Eastern Philosophers: Vietnam Volume oleh Yu Xiangdong, From Dunhuang Studies to Overseas Chinese Studies oleh Wang Xiaodun, dan Vietnam oleh Zhang Jiaxiang. Sebagai tambahan, ada sejumlah disertasi doctoral yang berkualitas oleh Huang Yunjing, Sun Hongnian, You Mingqian, Niu Junkai, dan lain lain. Terbitan tahunan, Report on Vietnamese National Conditions yang diterbitan baru-baru ini oleh Guangxi Southeast Asian Studies Institute menawarkan banyak kenyamanan bagi studi Vietnam dan oleh karena itu sangat popular. Terlebih lagi banyak tulisan, terjemahan dan teksbook tentang bahasa dan literature, ethnologi, hukum Vietnam dan wilayah lainnya telah diterbitkan, apalagi tulisan-tulisan dan monograph yang berhubungan dengan politik, ekonomi, budaya, agama, diplomasi dan lain-lain. Apa yang perlu disebutkan secara khusus di sini adalah A Catalog of Writings in Hannan Vietnam yang baru diterbitkan yang merupakan kompilasi bersama antara Prof. Wanf Xiaodun dari Universitas Qinghua, Prof. Liu Chunyin dari Taiwan, danProf. Chen Yi dari Vietnamese Hannan Institute,  merupakan sebuah buku referensi penting dan tidak bisa diabaikan untuk studi sejarah dan peradaban Vietnam dan merupakan satu dari karya terbaru dalam studi bibliografi.


Akhir-akhir ini studi Vietnam di Cina berada dalam periode perkembangan yang cepat dan dinamis dengan semakin banyak hasil penelitian yang diperoleh, dimana jumlah karya yang bermutu semakin meningkat. Dalam istilah kecenderungan dalam perkembangan studi Vietnam, ada dua hal yang perlu mendapatkan perhatian:


Pertama, di bawah pengaruh kecenderungan akademis domestik dan luar negeri dan pemikiran baru, studi Vietnam di Cina akam memberikan perhatian lebih untuk memperkenalkan ide-ide baru, metodologi baru, multi-disiplin ilmu, inter-disiplin dan studi yang terpadu. Alamanac School di Barat mengusulkan bahwa studi dari sejarah manusia sebaiknya menggunakan pendekatan yang menggunakan metoda dari berbagai disiplin dan dengan perspektif sejarah yang holistik. Sejah tahun 1990-an, Cambridge History of Southeast Asia yang diedit oleh N. Tarling, Silver Capital and the Orient in the Global View oleh A. G. Frank, dan The World Since 1500: A Global History oleh S. Starianos memperlihatkan aplikasi dari ide-ide, konsep dan metode baru dalam eksplorasi mereka tentang sejarah Asia Tenggara dan sejarah dunia. Interpretasi yang diperbarui dalam sejarah dan Cina oleh studi-studi paska modern Barat dan berbagai sekolah studi CIna khususnya di Sekolah California di Amerika Serikat, mempunyai mengaruh yang besar dalam dunia akademis Cina. Dipengaruhi oleh pemikiran inovatif dan sekolah-sekolah perintis, studi Vietnam di Cina mungkin akan lebih diperluas dan diperdalam.


Dengan ide-ide, konsep dan metode penelitian baru dan daru sebuah perspektif sejarah dan budaya, banyak permasalahan dalam studi Vietnam perlu dipahami dan ditelaah kembali. Dua dari permasalahan yang paling penting adalah: pertama, bagaimana sebaiknya kita melihat keaslian dari sejumlah legenda dalam pra-sejarah Vietnam, atau keberadaan King Xiong Times, banyak peneliti menolak keberadaan King Xiong dan mengabaikan keberadaan peradaban pra-sejarah di Vietnam. Kedua, bagaimana sebaiknya kita memahami sifat dan karakter dari budaya dan peradaban nasional Vietman, dan khususnya budaya kuno, yang secara mendalam dipengaruhi dan berbeda dari budaya Cina dan India. Identitas nasional (yang dimiliki secara eksklusif oleh orang-orang Vietman, menunjukkan mentalitas nasional dan karakteristik berpikir, berdasarkan sumber pemikiran dari orang-orang Vietnam), keunikan (dekat hubungannya dan terintegrasi dengan budaya dari warga-negara lain, mempunyai sistem tersendiri, diwariskan dan dikembangkan oleh masyarakatnya) dan keinovatifannya (menciptakan basis dalam menerima dan menerima dalam proses penciptaan, merubah budaya asing menjadi budaya nasional) mungkin merupakan ciri khas yang penting.


Kedua, jumlah orang yang terlibat dalam studi Vietnam mungkin akan makin bertambah dan kelompok ini mungkin akan meluas dan infrastruktur untuk penelitian dalam semua bidang mungkin akan menjadi lebih kuat. Kenyataanya bahwa para peneliti yang sebelumnya tertarik pada studi Cina semakin tertarik pada Vietnam dan bergabung dengan kelompok studi Vietnam mungkin akan membuat dobrakan baru dalam studi Vietnam yang akhirnya memberikan dampak tertentu dalan study sejarah dan peradaban Cina. Sepertinya, studi Cina merupakan basis dari studi-studi Vietnam, dan kebalikannya, studi Vietnam dapat juga menfasilitasi dan mempromosikan studi Cina. Seperti yang pernah ditunjukkan oleh Professor Wang Xiaodun, buku-buku kuno tentang Vietnam, seperti tulisan klasik Dunhuang, mungkin memberikan pengaruh yang besar pada studi sejumlah subyek akademis Cina kuno. Setelah periode pembangunan dan kerjasama, penekanan akan lebih diberikan kepada mengkonsolidasikan pondasi-pondasi penelitian tentang studi Vietnam: yang pertama, penekanan pada pengumpulan, pemilihan dan menkompilasi bahan-bahan utama; kedua, penekanan pada pelatihan ketrampilan bahasa; seorang peneliti tidak hanya perlu untuk memahami bahasa Vietnam, tetapi juga bahasa Inggris atau Perancis atau Jepang; ketiga, penguatan komunikasi, pertukaran dan kerja sama dengan dunia akademis dari Vietnam dan negara-negara lainnya, tetap menjaga kontak dan melakukan penelitian lapangan lebih sering di Vietnam untuk membuat penelitian lebih otentik dan realistik. Ini mungkin kelemahan dari studi Vietnam dan membutuhkan berbaikan.        



Kyoto Review of Southeast Asia Issue 10 (August 2008)

Yu Xiangdong adalah Professor dan Wakil Direktur Institute of Vietnamese Studies, Universitas Zhengzhou, Ph.D, Southeast Asian Research Institute, Universitas Xiamen. Artikel ini pertama kali diterbitkan dalam Journal of Zhengzhou University, Vol.38, N0.6, Nov.2005. Diterjemahkan untuk KRSEA oleh Kong Xiangwen.

Kyoto Review of Southeast Asia
Issue 10 (August 2008)

© Center for Southeast Asian Studies, Kyoto University

KYOTO REVIEW OF SOUTHEAST ASIA GRATEFULLY ACKNOWLEDGES THE SUPPORT OF THE TOYOTA FOUNDATION.

Designed and developed by SQUEAKYSTUDIOS for CSEAS

click to download PDF