Penelitian tentang Bahasa-bahasa Asia Tenggara di Cina: Kondisi saat ini dan Tren di Masa Mendatang


Chen Hui

volume 10

english    thai    chinese    filipino

THIS ISSUEKyotoreviewvol10.htmlhttp://www.kyotoreviewsea.org/Issue_10/TOC.htmlshapeimage_1_link_0
CSEAShttp://www.cseas.kyoto-u.ac.jp/index_en.htmlhttp://www.cseas.kyoto-u.ac.jp/index_en.htmlshapeimage_2_link_0

NEWS

ARCHIVESArchives.htmlhttp://livepage.apple.com/shapeimage_3_link_0

PDF

COMMUNITYhttp://www.kyotoreviewsea.org/cmshttp://www.kyotoreviewsea.org/cms/shapeimage_4_link_0
 

Karena lokasi geografis, Cina dan negara-negara ASEAN telah lama memelihara hubungan erat, khususnya sejak tahun 1991 ketika dialog tentang hubungan antara keduanya mulai dibangun. Di bulan November 2002, pemimpin Cina dan ASEAN menanda tangani Perjanjian Kerangka Kerja tentang Kerjasama Ekonomi Komprehensif (The Framework Agreement on Comprehensive Economic Cooperation) antara Cina dan ASEAN di Phnom Penh, ibukota Kambodia. Sejak saat itu komunikas dan kerjasama antara Cina dan negara-negara ASEAN dalam politik, ekonomi, diplomasi dan budaya telah berkembang secara cepat. Setelah tiga kali sukses Eksposis Cina-ASEAN yang diadakan di Nanning, Daerah Otonomi Guangxi Zhuang antara bulan November 2004 dan Oktober 2006, hubungan ekonomi dan perdagangan antara Cina dan ASEAN dan perusahaan multilateral internasional telah memasuki era baru dalam pengembangan. Bahasa-bahasa Asia Tenggara telah mulai berfungsi sebagai jembatan penting untuk komunikasi yang menghubungkan Cina dan negara-negara ASEAN. Karena departemen bahasa di perguruan tinggi dan universitas yang menawarkan pelajaran tentang bahasa-bahasa Asia Tenggara di Cina mulai menjadi fokus perhatian khalayak, mereka mempunyai kesempatan besar untuk berkembang dan juga dihadapkan pada tantangan-tantangan baru.  


1. Situasi Saat Ini di Departemen Bahasa-bahasa Asia Tenggara di Cina

Dengan hubungan dekat antara Cina dan ASEAN, bahasa secara alami menjadi alat komunikasi yang penting. Mempelajari bahasa satu sama lain telah menjadi populer di Cina dan negara-negara ASEAN. Banyak negara ASEAN mengirimkan para pelajar ke Cina untuk mempejari bahasa Cina. Banyak universitas di Daerah Otonomi Guangxi Zhuang dan Propinsi Yunnan di bagian barat Cina telah membangun kerja sama jangka panjang dalam bidang pendidikan dengan universitas di negara-negara ASEAN. Bahasa Cina saat ini menjadi bahasa yang paling populer di Asia Tenggara.


Sejak proses pembentukan Area Bebas Perdagangan Cina-ASEAN (China-ASEAN Free Trade Area), ada kecenderungan besar untuk mempelajari bahasa-bahasa Asia Tenggara di Cina. Saat ini sembilan universitas di Cina yang menawarkan program-program bahasa Asia Tenggara. Di antaranya yang berlokasi di bagian utara adalah Universitas Peking, Universitas Pendidikan Asing Beijing dan Universitas Komunikasi Cina; sementara di bagian selatan ada Universitas Nasional Guangxi (Guangxi University of Nationaities), Universitas Nasional Yunan, Universitas Studi Asing Guangdong dan Universitas Studi Internasional Shanghai. Tabel 1 memperlihatkan distribusi dari program-programnya. 


Tabel 1. Distribusi Program-program Bahasa Asia Tenggara (selain Guangxi)






Dari tabel di atas, kita dapat memperoleh pengetahuan umum tentang distribusi dan pendirian dari program-program bahasa Asia Tenggara di Cina saat ini. Universitas Peking adalah universitas pertama yang mendirikan program bahasa dan literatur Asia Tenggara sejak tahun yang sama dengan pendirian Negara Republic Rakyat Cina. Saat ini Universitas Studi Asing Beijing dan Institut Bahasa Asing Luoyang menaearkan jumlah terbesar program bahasa Asia Tenggara, masing-masing mengajarkan 7 macam bahasa.


Sejak pendiriannya program-program bahasa ini, universitas yang terlibat telah membuat Cina mempunyai banyak spesialis yang mahir dalam bahasa-bahasa ini. Mereka memberikan peran penuh dari apa yang telah mereka pelajari dalam semua bidang kehidupan seperti diplomasi, ekonomi dan perdagangan, militer, tradisi, administrasi partai dan pemerintahan, siaran media masa ke luar negeri, pariwisata, dan institusi pendidikan tinggi, memberikan kontribusi besar pada hubungan luar negeri dan ekonomi serta pembangunan sosial di Cina, dan memerankan peranan penting dalam mempromosikan hubungan saling menguntungkan, komunikasi dan kerja sama antara Cina dan negara-negara ASEAN.


2. Keadaan Saat tentang Peningkatan Pelajaran Bahasa Asia Tenggara di Guangxi

Karena Nanning, ibukota Daerah Otonomi Guangxi Zhuang mempunyai keuntungan geografi dalam hubungan dengan negara-negara ASEAN, dan telah menjadi kota penyelenggara Expo Cina-Asian tahunan, bahasa-bahasa Asia Tenggara telah menjadi semakin populer di Guangxi. Dan kebutuhan untuk para profesional bahasa dari berbagai sektor dan industri juga meningkat. Untuk beradaptasi dengan perkembangan ekonomi dan sosial, jurusan bahasa Asia Tenggara dari perguruan-perguruan tinggi dan universitas di Guangxi tidak hanya telah memperluas keterlibatannya, tapi juga mendirikan program-program (jurusan) yang mengajarkan bahasa-bahasa dan literatur dari negara-negara Asia Tenggara yang lain.

Tabel 2 memberikan gambaran umum dari distribusinya.

Tabel 2 Distribusi Program Bahasa Asia Tenggara di Guangxi




Tidaklah sulit untuk dilihat bahwa setelah dimulainya proses Area Bebas Perdagangan Cina-ASEAN, sejumlah program sarjana reguler 4 tahun di universitas, perguruan tinggi yunio, dan sekolah sekolah teknik sekunder menawarkan atau menambah banyak program atau jurusan yang berfokus pada bahasa-bahasa, bisnis dan pariwisata Asia Tenggara. Contohnya, sebagai tambahan dari jurusan bahasa Vietnam, Laos, Thailand dan Kambodia yang sudah terbangun dengan baik di Universitas Nasional Guangxi, mereka menambah dua jurusan yang baru yaitu bahasa Birma dan Indonesia dengan persetujuan dari Menteri Pendidikan di tahun 2005. Universitas Keuangan dan Ekonomi Guangxi juga memulai program bahasa Vietnam dan departemen bisnis Asia Tenggara. Banyak perguruan tinggi yunior dan sekolah teknik sekunder telah mendirikan program-program bahasa Asia Tenggara baru.


Beberapa Permasalahan Penting di balik Arus untuk Belajar Bahasa-Bahasa Asia Tenggara


Saat ini ada banyak permasalahan dalam sebagian besar program-program bahasa Asia Tenggara yang dikelola oleh universitas, perguruan tinggi yunior dan sekolah teknik sekunder.


Yang pertama, dalam beberapa tahun kelihatannya jumlah orang yang belajar bahasa-bahasa Asia Tenggara melambung tinggi. Tetapi, jumlah nyata dari orang-orang yang berdedikasi untuk mempelajari bahasa tersebut sulit untuk diperhitungkan secara pasti, dan yang pasti tidak sebanyak seperti yang di-indikasikan oleh data internet. Di Cina, sebagai tambahan untuk jurusan-jurusa bahasa Asia Tenggara di sembilan universitas, beberapa mahasiswa di perguruan tinggi dan sekolah-sekolah teknik sekunder mempelajarinya dan beberapa kursus-kursus juga menawarkan program kursus jangka pendek. Konsekwensinya, kelihatannya ada sejumlah besar orang-orang yang mempelajari bahasa Asia Tenggara, tetapi hanya sedikit saja yang menjadi ahli dalam menggunakannya.


Kebanyakan siswa tidak mempunyai aksen yang bagus dari bahasa yang dipelajarinya, khususnya mereka yang dari perguruan tinggi yunior dan sekolah-sekolah teknik sekunder karena kurangnya guru-guru yang kompeten dan fasilitas yang dibutuhkan. Terlebih lagi, beberapa siswa hanya dibutakan oleh ramainya masa yang memperlajari bahasa-bahasa Asia Tenggara, dan berfikir tentang ini sebagai yang sedang “in” dan tidak dari ketertarikan mereka sendiri. Motivasi dan lingkungan yang seperti ini tentunya tidak kondusif untuk cara belajar mereka.


Ada lagi yang lebih didorong oleh keuntungan pasar, beberapa perguruan tinggi yunior dan sekolah teknik sekunder mendirikan program bahasa Asia Tenggara dan mulai merekrut mahasiswa walaupun mereka tidak dilengkapi dengan guru-guru dan bahan ajaran yang memadai. Sejauh pengetahuan penulis, saat ini jumlah mahasiswa dalam sebuah kelas di kebanyakan perguruan tinggi yunior dan sekolah teknik sekunder berjumlah sampai empat puluh atau lima puluhan, bahwa ada yang mencapai enam puluhan. Ukuran ini sebenarnya sangat tidak menguntungkan bagi siswa untuk belajar dan pasti akan membatasi potensi siswa untuk mempelajari bahasa tersebut. Dengan jelas dapat kita lihat kotradiksi yang tidak dapat diselesaikan antara keterbatasan guru, fasilitas mengajar dan bahan ajaran yang tidak memadai dengan jumlah siswa yang cukup besar. Hal ini tidak diragukan lagi mempengaruhi kualitas pengajaran dan peningkatan qualitas an kemampuan siswa di sekolah-sekolah tersebut.

  

Seperti yang kita ketahui, mempelajari bahasa membutuhkan latihan yang berulang-ulang dan berhadap-hadapan untuk mempelajari aksen dan pelafalan. Setiap siswa harus mendapatkan kesempatan sebanyak-banyaknya untuk latihan berbicara dengan bahasa tersebut. Oleh karena itu berdasarkan norma umum dalam manajemen pendidikan, jumlah siswa di kelas sebaiknya tidak melebihi dua puluh siswa, untuk memastikan semua siswa mempunyai kesempatan untuk latihan di dalam setiap pelajaran di kelas. Hanya dengan cara ini siswa dan meningkatkan ketrampilan berbahasa dan terlatih untuk menjadi profesional bahasa yang mahir.


Yang kedua, program-program bahasa Asia Tenggaa di sembilan universitas cina kurang lebih menfokuskan efeknya untuk membangun program-program sarjana dari pada pendidikan master ataupun doktor yang ber-level tinggi. Saat ini dari sembilan universitas, hanta Universitas Peking yang telah memiliki otorisasi untuk menjalankan program doktor dan pusat penelitian paska-doktor untuk bahasa-bahasa Asia dan Afrika. Selain akademi milter, hanya tiga universitas yaitu Universitas Studi Asing Beijing, Universitas Nasional Guangxi dan Universitas Nasional Yunnan yang berkompetensi untuk menjalankan program master (MA) dalam bahasa dan literatur Asia dan Afrika. Yang lainnya berfokus hanya pada program-program sarjana. Jelas sekali ada kontras yang cukup tajam: jumlah siswa program sarjana terlalu besar sementara program paska sarjana sangat sedikit. Contohnya Universitas Nasional Giangxi, rasio siwa sarjana dan paska-sarjana dalam bahasa Vietnam adalan 17.5:1; rasio siswa sarjana dan paska-sarjana untuk bahasa Thailand adalah 37.8:1. Rasio di dua universitas lainya juga menunjukkan angka yang hampir sama.


Terlebih lagi, di sembilan universitas di Cina, perkembangan program-program bahasa Asian Tenggara tidak seimbang dalam segi keaneka-ragaman bahasa. Tidak ada satupun yang mencakup semua bahasa-bahasa di Asian Tenggara. Hampir semua universitas-universitas ini telah mendirikan program-program untuk bahasa Vietnam dan Thailand, tetapi untuk bahasa Laos, Indonesia, Birma, Malaysia dan Kambodia tidak banyak. Bahasa Philipina bahkan lebih jarang ditawarkan, kecuali di Universitas Peking.

   

Program-program bahasa Asia Tenggara saat ini dihargai di Cina, dan beberapa tahun terakhir dapat disaksikan berkembangnya program-program ini di universitas-universitas da perguruan tinggi Cina. Tetapi, sangat cepatnya perkembangan ini telah mengakibatkan ketidak-seimbangan yang disebutkan di atas. Ini merupakan perkembangan yang tidak masuk akal untuk membuat jurusan-jurusan bahasa dalam jumlah yang besar di perguruan tinggi yuniot dan perguruan tinggi kejuruan bila dibandingkan dengan kecilnya jumlah jurusan ahli bahasa dan dilatih untuk menjadi profesional tingkat tinggi.


Perkembangan Tren Program-program Bahasa Asia Tenggara


Pertama, dengan pembangunan ekonomi dan sosial serta kerja sama yang lebih dekat dalam proses penyelenggaraan Area Bebas Perdagangan Cina-ASEAN, para profesional tingkat tinggi dan para ahli dari berbagai bidang sangatlah dibutuhkan. Program-program bahasa Asia Tenggara akan membentuk sebuah model rasional untuk pelatihan spesialis-spesialis bahasa. Universitas-universitas di Cina akan meningkatkan skala dari program Master dan Doktor mereka untuk program-program bahasa Asia Tenggara selangkah demi selangkah.


Kedua, dengan cepatnya pembangunan sosial, kurikulum untuk program bahasa Asia Tenggara di universitas-universitas akan membuat beberapa penyesuaikan yang perlu dengan beberapa kursus baru tambahan sehingga dapat membuat mereka relevan dan komprehensif. Akhir-akhir ini, kursus-kursus utama di mayoritas universitas adalah fonetis, bahasa percakapan, pendengaran dan percakapan, kursus dasar untuk belajar bahasa, kursus lanjutan untuk belajar bahasa, teori dan praktek penterjemahan (pengartian dan penterjemahan), bacaan pilihan dalam literatur, dan literatur sejarah. Untuk memenuhi kebutuhan perkembangan ekonomi dan sosial, kursus-kursus seperti sosial dan budaya, tradisi dan budaya bangsa, sejarah dan kondisi saat ini hubungan antara ina dan negara tujuan, hukum, keuangan dan perdagangan, bahasa pariwisata, dan bahasa komputer dari bahasa Asia Tenggara tertenti akan ditambah, untuk merubah program pelatihan ketrampilan berbahasa tradisional menjadi sebuah program yang integrated dan komprehensif.


Ketiga, para profesional yang pandai 3 bahasa atau multi-bahasa yang tahu satu sampai dua bahasa-bahasa Asia Tenggara dengan tambahan mahir dalam bahasa Inggris sangat dicari dan sangat dibutuhkan di masyarakat saat ini. Dengan percepatan proses globalisasi ekonomi, para profesional dapat hanya satu bahasa asing sangat susah untuk memenuhi kebutuhan pasar. Mereka yang memiliki keahlian dalam bahasa Inggris dan satu atau dua bahasa Asia Tenggara akan menjadi profesional yang paling kompetitif di pasaran.


Tetapi, untuk meningkatkan keahlian profesional para siswa dan menghasilkan para ahli yang mahir tiga bahasa atau banyak bahasa, pelatihan para guru menjadi prioritas utama. Universitas-universitas akan mengutamakan pelatihan kemampuan profesional di kalan guru muda dan guru yang berumur paruh-baya melalui berbagai saluran. Strategi untuk “mengirim keluar dan mengundang” sudah selayaknya diadopsi. “Mengirim keluar” berarti bahwa para guru muda dan paruh-baya didorong untuk mendapatkan gelas Marter dan Doktor, belajar di negara-negara tujuan sebagai mahasiswa ataupun peneliti tamu. “Mengundang” berarti mengundah para specialis dan ahli asing untuk memberikan pelajaran dan ahli dalam negeri yang terkenal diundang untuk memberikan saran-saran dan usuluan mereka. Dengan melakukan hal-hal ini, latar belakang pendidikan para guru-guru muda dan paruh-baya akan mejadi lebih rasional, struktur dari pengetahuan mereka akan lebih meningkat, dan kapasitas mengajar dan belajar mereka akan lebih maju.


Akhirnya, jika program-program bahasa Asia Tenggara di perguruan tinggi yunior dan sekolah-sekolah sekunder teknik gagal untuk meningkatkan kualitas siswa-siswa mereka dalam memenuhi kebutuhan masyarakat, jika mereka gagal untuk mereformasi model pengajaran dan manajemen yang ada saat ini dan gagal untuk meningkatkan pelatihan staf pengajar dan memberikan dana lebih untuk fasilitas mengajar, cepat atau lambat mereka akan dihapuskan.


Penulis memprediksikan bahwa dalam waktu dekat, akan ada terlalu banyak sumber daya manusia yang mempunyai pengetahuan dasar atau menengah tentang bahasa-bahasa Asia Tenggara dan hanya sedikit yang berbakat dan ahli spesialis yang mempunyai kemampuan baik tentang bahasa-bahasa Asia Tenggara dengan kemampuan yang komprehensif. Program-program bahasa di berbagai universitas akam membuat kurikulum mereka lebih rasional dan relevan dan melatih para guru muda dan paruh-baya mereka dengan berbagai cara untuk meningkatkan keahlian profesional mereka. Para siswa akan dilatih untuk menguasai lebih dari dua bahasa dengan cara yang lebih terintegrasi dan komprehensif.


Beberapa Usulan


Yang pertama, diharapkan bahwa pejabat yang relevan mengatur dan memberikan arahan yang sesuai untuk pendirian program bahasa Asia Tenggara yang tidak diperlukan dan mempertahanlan jumlahnya dalam level yang sesuai, sehingga membatasi pertumbuhan yang tak terkendali jumlah program-program yang ada dan juga jumlah siswa.


Yang kedua, universitas-universitas sebaiknya mempromosikan pertukaran dan komunikasi di dalam bidang akademik dan penelitian dalam metode pengajaran dengan padangan untuk meningkatkan kompeten dan struktur pengetahuan para pengajar melalui berbagai cara. Semua jenis kursus pilihan sebaiknya ditawarkan ke para siswa dan aktivitas ekstrakurikuler dihidupkan untuk menciptakan atmosfere akademik yang lebih menyenangkan dan memberikan berbagai kesempatan untuk pelajaran mereka.


Ketiga, dalam basis ketersediaan program-program Master, universitas seharusnya melipatkan usaha-usaha mereka dalam persiapan pendirian program-program doktoral yang lebih lanjut dalam bahasa-bahasa dan budaya Asia Tenggara, yang akhirnya akan membantu meningkatkan program-program sarjana dan Master mereka.


Keempat, universitas sebaiknya melakukan designing ulang kurikulum program program bahasa Asia Tenggara, dan menghindari konsentrasi yang hanya pada latihan keahlian bahasa. Mereka sebaiknya menawarkan kursus-kursus yang berhubungan lebih dekat ke masalah perkembangan sosial dan memenuhi kebutuhan sosial, seperto masyarakat dan budaya, sejarah, hukum, politik internasional, keuangan, budaya nasional, manajemen pariwisata dan lain-lain.


Yang terakhir, untuk tambahan bagi jurusan pelajaran bahasa mereka, para siswa program bahasa Asia Tenggara seharusnya berusaha untuk memiliki kemampuan yang baik dalam berbahasa Inggris, berusaha keras untuk menjadi ahli tiga bahasa atau banyak bahasa profesional yang sangat dibutuhkan di masyarakat.    



Kyoto Review of Southeast Asia Issue 10 (August 2008)

 

Chen Hui belajar di Kampus Ethnologi dan Sosiologi, Universitas National Guangxi. Artikel ini pertama kali diterbitkan di Around Southeast Asia, 2007, No.3. Artikel ini diterjemahkan untuk KRSEA oleh Hu Jing.

KYOTO REVIEW OF SOUTHEAST ASIA GRATEFULLY ACKNOWLEDGES THE SUPPORT OF THE TOYOTA FOUNDATION.

Designed and developed by SQUEAKYSTUDIOS for CSEAS

Daftar Pustaka


Qi Huan & Du Tao, “Review of Political and Economic Relationship between the China and the ASEAN Countries in 2003” (Penelaahan tentang Hubungan Politik dan Ekonomi antara Cina dan Negara-negara ASEAN di tahun 2003), Journal of Yunnan Finance&Economics University, 2004, 19(3)

Huai Yu, “A Strategic Thought on the Globalization of Higher Education Between Yunnan and ASEAN”(Sebuah Pemikiran Strategis dalam Globalisasi Pendidikan Tinggi antara Yunnan dan ASEAN) , Around Southeast Asia, 2004(8)

Fang Wei & Tang Yongjun, “Consideration of Internationalization Strategy of Guangxi-ASEAN Higher Education” (Pertimbangan tentang Strategi Internasionalisasi di Pendidikan Tinggi Guangxi-ASEAN), Around Southeast Asia, 2003(11)

Zhang Xiaoqin, “Give Full Play to Existing Advantages and Uniqueness and Build Up Famous Brand for Non Universal Foreign Languages Programs”(Memberikan Peran Penuh dalam Keuntungan dan Keunikan yang Ada dan Membuat Label yang Terkenal untuk Program-program Bahasa Asing Non-Universal), Higher Edcation Forum, 2005(1)

click to download PDF

Kyoto Review of Southeast Asia
Issue 10 (August 2008)

© Center for Southeast Asian Studies, Kyoto University